Mbak Izza, Kok Jadi Gampang Nangis?

27 10 2008

Sudah beberapa minggu ini kuperhatikan anak sulungku Izza gampang sekali menangis. Bangun tidur menangis (kalau udah begini bisa badmood seharian dia), diajak mandi pake nangis dulu, mau makan juga pake acara rewel minta ini-itulah. Bahkan kalau diajak pergi, pulangnya pasti rewel, terus nangis. Huuuhh, jadi bingung campur kesel. Abis, maunya kan pas punya waktu sama dia, ya ’seharusnya’ dia kan senang dan ga rewel gitu.

***

Aku dan suami, mas Wahyu, membicarakan hal ini. Dan beberapa kemungkinan penyebabnya menurut kami adalah:

Pertama, mbak Izza cari perhatian. Setelah menjalani hari-harinya tanpa ada ayah-bunda setiap hari (karena kami berdua bekerja) kecuali beberapa jam menjelang tidur malam, dan itu memang mungkin tidak cukup baginya. Untuk hal ini, biasanya aku dan suami selalu menyempatkan diri untuk beraktivitas apa saja dengannya setiap kami pulang bekerja. Entah sekedar mendengarkan lagu bersama-sama, membaca buku, bermain boneka, atau sekedar menemani dia melompat-lompat di kasur bermain bersama adiknya.

Kedua, adanya ketidak-konsistenan dalam mendidiknya. Ini dikarenakan kami tinggal bersama orangtua. Biasanya eyang atau andungnya lebih permisif (baca: membolehkan/memanjakan) dalam segala hal. Sebenarnya hal ini sudah pernah kami singgung dengan mereka. Namun hasilnya tidak seperti yang kami inginkan. Menurut mereka, cara mendidik setiap orang kan beda-beda, jadi cara mendidik mereka tidak akan bisa 100% sama dengan cara mendidik kami, orangtuanya. Memang betul, tapi maksud aku dan suami adalah konsisten contohnya dalam hal peraturan. Misal, kami ingin anak kami hanya menonton TV pada jam2 tertentu saja, ya seharusnya eyang dan andungnya juga menerapkan hal yang sama. Atau cara membujuk anak tanpa mengiming-imingi diberi sesuatu. Pernah saat kejadian heboh di pagi hari yang pernah kuceritakan beberapa waktu lalu, andungnya menjanjikan akan membelikan lagi baju Thomas yang baru untuk Izza. Dan sebenarnya bukan begitu cara kami membujuknya.

Memang sulit. Di satu sisi kami ingin Izza dididik dengan ’standar’ keluarga kecil kami, tapi di lain pihak kami juga harus menghormati orangtua kami. Akhirnya, kadang dengan berat hati kami mengalah. Perkembangan baru, jika aku atau suamiku menegur atau memarahi Izza, dia langsung pergi mencari ‘pembelaan’ dari andung/eyangnya. Namun pernah, saat kami hanya berempat di rumah, Izza bisa menjadi anak manis seharian, tanpa tangis, tanpa rewel. Hmm, aneh kan?

Ketiga, mungkin Izza sudah bosan di rumah. Melihat usianya (3 tahun 5 bulan) memang dia sudah dapat masuk playgroup. Aku dan suami memang belum menyekolahkan dia karena kami tidak ingin dia nanti terlalu lama di PG & TK (yang sebenarnya tidak wajib) dan akhirnya menjadi bosan sekolah justru pada waktunya (SD). Beberapa anak dari saudara dan teman ada yang mengalami hal ini.

Tapi memang Izza terkadang melakukan aktivitas yang ‘itu-itu saja’ di rumah. Dulu sih yang rajin emaknya (hehe..waktu aku masih nganggur di rumah), sekarang…paling banter aku sempatkan print beberapa gambar untuk diwarnai. Atau mencetuskan ide-ide permainan di malam harinya supaya dia bisa melanjutkan bermain di esok siang. Tapi ya itu, dia lebih senang kalo permainan itu dia mainkan bersama bundanya. Coba, tiap aku pulang kerja dan sudah mandi, pertanyaan yang selalu diajukan selalu sama.

“Bun, besok mbak Izza bangun tidur bunda kerja nggak?”

“Iya dong.”

“Bunda kerja kenapa?”

“Biar bisa menabung buat mbak Izza dan dik Nasywa.” Biasanya ada yang nyambung di belakang (biasanya mbak Yem atau andungnya) “Buat beli susu mbak Izza.” Nah jawaban kaya gini juga aku kurang setuju sebenarnya.

“Hari minggu bunda kerja nggak?”

“Kalo hari minggu bunda libur.”

“Mbak Izza udah lama ga maen perosotan di mal bun..”

dan seterusnya….

Coba mbak Izza selalu ceria begini nak.

Coba mbak Izza selalu ceria begini nak.

Jadi ibu yang bekerja memang butuh tenaga dan hati ekstra…. :)

***

Tips mengatasi anak yang rewel

- Bangkitkan semangat anak di pagi hari. Peluklah erat-erat, lakukan dialog singkat dan hangat di pagi hari. Ajak juga anak untuk main sebentar di pagi hari. Memutar musik kesukaan atau film favorit bisa dipilih. Jadi, saat bangun jangan langsung disuruh mandi dan berganti pakaian. Dengan begitu, anak bisa melupakan ketidaknyamanan yang dirasakannya.

- Orangtua jangan menyikapi kerewelan anak dengan sikap marah karena tak akan mampu meredam kerewelan, malah kerewelannya semakin menjadi. Bersikaplah tenang dan santai.

- Bila ibu sudah tak kuat menghadapi kerewelan anak, minta ayah atau orang lain menangani si kecil. Menangani sikap anak dengan emosi justru membuat anak semakin tertekan. Bukan tak mungkin jika sikap rewel akhirnya menjadi rutinitasnya setiap pagi.

- Ciptakan suasana menyenangkan di waktu malam menjelang tidur. Entah dengan mandi air hangat lebih dulu, lalu membacakan cerita, menyetel musik lembut, dan lain-lain. Dengan aneka ritual sebelum tidur, membuat suasana hati anak menjadi baik. Suasana hati yang baik itu pulalah yang akan dibawanya saat terbangun dari tidur.

Tips mengatasi kerewelan anak yang lain ada disini





Mengolah Sayur Dengan Benar

18 10 2008

Kemarin, teman sekantor saya Ratna, memperlihatkan kepada saya isi email yang baru didapatnya, tentang seekor cacing sepanjang 22 cm yang berhasil dikeluarkan dari dalam perut seseorang. Penyebabnya ditengarai berasal dari sayuran yang dikonsumsi. Selengkapnya klik disini.

Menurut saya sih sebenarnya hal itu tergantung proses pengolahan sayuran, mulai dari memilih sayuran yang baik, cara mencuci, cara menyimpan, sampai cara memasaknya.

Sayuran yang baik adalah yang masih segar, dapat dilihat dari warnanya yang cerah, cantik bentuknya dan keras/getas/tidak lembek, pilih yang bebas dari ulat/serangga.

Cuci sayuran di bawah air yang mengalir. Mencuci sayuran dapat mengurangi efek pestisida sekitar 10%-20%. Racun ini tidak dapat dihilangkan 100% karena buah-buahan mempunyai lapisan minyak di permukaannya yang mengikat racun. Bagi petisida yang langsung terserap sistem kehidupan tanaman, pencucian ini tidak mengurangi sisa racun.

Setelah dicuci, sayuran disimpan di dalam kulkas setelah dibungkus dengan kertas terlebih dahulu. Jika tidak ada kulkas, boleh disimpan di tempat yang dingin dan redup di dapur. Hindari penggunaan tas plastik supaya tidak menjadi layu dan hilang vitaminnya. Waktu penyimpanan juga tidak boleh lebih dari 3 hari, karena hal ini justru dapat membahayakan kesehatan.

Olah sayuran dengan cara yang benar. Sayur-sayuran kaya dengan vitamin dan garam mineral. Vitamin C atau asid askorbik mudah rusak atau larut pada saat dimasak, melalui proses pengoksidaan, dan cara pemotongan atau pengupasan. Jangan merendam sayuran yang telah dipotong, karena vitamin C mudah larut di dalam air. Hindari memotong sayuran terlalu kecil karena ukuran kecil juga menyebabkan mudah terjadi proses pengoksidaan vitamin terutama vitamin C. Jangan memasak sayuran terlampau masak.

Jadi, sepanjang pengolahan sayuran dilakukan dengan benar, saya rasa tidak perlu khawatir dengan hal-hal yang diceritakan dalam email teman saya di atas. Untuk yang sering makan di luar rumah, berhati-hatilah, pilih tempat makan yang terjamin kebersihannya. Atau untuk lebih amannya, tidak ada salahnya untuk menanam sayuran di pekarangan sendiri. Hehe.. siapa tau bisa jadi petani sukses seperti Melly Manuhutu.

Sumber: http://www.pjnhk.go.id