Sudah beberapa minggu ini kuperhatikan anak sulungku Izza gampang sekali menangis. Bangun tidur menangis (kalau udah begini bisa badmood seharian dia), diajak mandi pake nangis dulu, mau makan juga pake acara rewel minta ini-itulah. Bahkan kalau diajak pergi, pulangnya pasti rewel, terus nangis. Huuuhh, jadi bingung campur kesel. Abis, maunya kan pas punya waktu sama dia, ya ’seharusnya’ dia kan senang dan ga rewel gitu.
***
Aku dan suami, mas Wahyu, membicarakan hal ini. Dan beberapa kemungkinan penyebabnya menurut kami adalah:
Pertama, mbak Izza cari perhatian. Setelah menjalani hari-harinya tanpa ada ayah-bunda setiap hari (karena kami berdua bekerja) kecuali beberapa jam menjelang tidur malam, dan itu memang mungkin tidak cukup baginya. Untuk hal ini, biasanya aku dan suami selalu menyempatkan diri untuk beraktivitas apa saja dengannya setiap kami pulang bekerja. Entah sekedar mendengarkan lagu bersama-sama, membaca buku, bermain boneka, atau sekedar menemani dia melompat-lompat di kasur bermain bersama adiknya.
Kedua, adanya ketidak-konsistenan dalam mendidiknya. Ini dikarenakan kami tinggal bersama orangtua. Biasanya eyang atau andungnya lebih permisif (baca: membolehkan/memanjakan) dalam segala hal. Sebenarnya hal ini sudah pernah kami singgung dengan mereka. Namun hasilnya tidak seperti yang kami inginkan. Menurut mereka, cara mendidik setiap orang kan beda-beda, jadi cara mendidik mereka tidak akan bisa 100% sama dengan cara mendidik kami, orangtuanya. Memang betul, tapi maksud aku dan suami adalah konsisten contohnya dalam hal peraturan. Misal, kami ingin anak kami hanya menonton TV pada jam2 tertentu saja, ya seharusnya eyang dan andungnya juga menerapkan hal yang sama. Atau cara membujuk anak tanpa mengiming-imingi diberi sesuatu. Pernah saat kejadian heboh di pagi hari yang pernah kuceritakan beberapa waktu lalu, andungnya menjanjikan akan membelikan lagi baju Thomas yang baru untuk Izza. Dan sebenarnya bukan begitu cara kami membujuknya.
Memang sulit. Di satu sisi kami ingin Izza dididik dengan ’standar’ keluarga kecil kami, tapi di lain pihak kami juga harus menghormati orangtua kami. Akhirnya, kadang dengan berat hati kami mengalah. Perkembangan baru, jika aku atau suamiku menegur atau memarahi Izza, dia langsung pergi mencari ‘pembelaan’ dari andung/eyangnya. Namun pernah, saat kami hanya berempat di rumah, Izza bisa menjadi anak manis seharian, tanpa tangis, tanpa rewel. Hmm, aneh kan?
Ketiga, mungkin Izza sudah bosan di rumah. Melihat usianya (3 tahun 5 bulan) memang dia sudah dapat masuk playgroup. Aku dan suami memang belum menyekolahkan dia karena kami tidak ingin dia nanti terlalu lama di PG & TK (yang sebenarnya tidak wajib) dan akhirnya menjadi bosan sekolah justru pada waktunya (SD). Beberapa anak dari saudara dan teman ada yang mengalami hal ini.
Tapi memang Izza terkadang melakukan aktivitas yang ‘itu-itu saja’ di rumah. Dulu sih yang rajin emaknya (hehe..waktu aku masih nganggur di rumah), sekarang…paling banter aku sempatkan print beberapa gambar untuk diwarnai. Atau mencetuskan ide-ide permainan di malam harinya supaya dia bisa melanjutkan bermain di esok siang. Tapi ya itu, dia lebih senang kalo permainan itu dia mainkan bersama bundanya. Coba, tiap aku pulang kerja dan sudah mandi, pertanyaan yang selalu diajukan selalu sama.
“Bun, besok mbak Izza bangun tidur bunda kerja nggak?”
“Iya dong.”
“Bunda kerja kenapa?”
“Biar bisa menabung buat mbak Izza dan dik Nasywa.” Biasanya ada yang nyambung di belakang (biasanya mbak Yem atau andungnya) “Buat beli susu mbak Izza.” Nah jawaban kaya gini juga aku kurang setuju sebenarnya.
“Hari minggu bunda kerja nggak?”
“Kalo hari minggu bunda libur.”
“Mbak Izza udah lama ga maen perosotan di mal bun..”
dan seterusnya….
Jadi ibu yang bekerja memang butuh tenaga dan hati ekstra….
***
Tips mengatasi anak yang rewel
- Bangkitkan semangat anak di pagi hari. Peluklah erat-erat, lakukan dialog singkat dan hangat di pagi hari. Ajak juga anak untuk main sebentar di pagi hari. Memutar musik kesukaan atau film favorit bisa dipilih. Jadi, saat bangun jangan langsung disuruh mandi dan berganti pakaian. Dengan begitu, anak bisa melupakan ketidaknyamanan yang dirasakannya.
- Orangtua jangan menyikapi kerewelan anak dengan sikap marah karena tak akan mampu meredam kerewelan, malah kerewelannya semakin menjadi. Bersikaplah tenang dan santai.
- Bila ibu sudah tak kuat menghadapi kerewelan anak, minta ayah atau orang lain menangani si kecil. Menangani sikap anak dengan emosi justru membuat anak semakin tertekan. Bukan tak mungkin jika sikap rewel akhirnya menjadi rutinitasnya setiap pagi.
- Ciptakan suasana menyenangkan di waktu malam menjelang tidur. Entah dengan mandi air hangat lebih dulu, lalu membacakan cerita, menyetel musik lembut, dan lain-lain. Dengan aneka ritual sebelum tidur, membuat suasana hati anak menjadi baik. Suasana hati yang baik itu pulalah yang akan dibawanya saat terbangun dari tidur.
Tips mengatasi kerewelan anak yang lain ada disini

Kemarin, teman sekantor saya 
Recent Comments