Izza, My First Daughter

27 06 2008

Proses melahirkan anak pertama tidak lama. Kontraksi pertama aku rasakan jam 23.00, dan karena jarak antara kontraksi satu dengan kontraksi berikutnya semakin dekat, 15 menit sekali, jam 24.00 aku dan suamiku ke rumah sakit. Menurut teori, melahirkan anak pertama paling tidak membutuhkan waktu lebih dari 12 jam, jadi aku tenang-tenang saja. Sampai di rumah sakit sekitar jam 01.00 diperiksa ternyata belum ‘pembukaan’. Suster bilang paling cepat aku melahirkan sekitar jam 06.00, jadi dipersilahkan menunggu. Aku menunggu di kamar bersalin, tiduran, sambil berdoa mudah-mudahan persalinanku nanti lancar.

Kira-kira setengah jam kemudian aku mulai merasakan kontraksi lagi, kali ini lebih sakit dan semakin sakit. Ternyata aku sudah ‘pembukaan tiga’. Jam 01.30 aku sudah ‘pembukaan enam’. Dokter mulai dihubungi, ternyata dokterku baru saja pulang karena baru ada operasi ceasar, sehingga rumah sakit menawarkan untuk diganti dokter lain atau dengan bidan saja. Suamiku setuju bidan yang menolong. Jam 02.00 aku sudah ‘pembukaan 9’ dan akhirnya jam 02.55 aku melahirkan ditolong bidan. Alhamdulillah persalinanku lancar.

Dua jam setelah melahirkan Izza, aku pendarahan. Setelah dibersihkan, suster meminta aku untuk istirahat. Sekitar jam 06.30 aku kembali pendarahan. Ternyata katanya ada bagian yang belum terjahit di jalan lahir. Akhirnya dokter memutuskan untuk dijahit ulang. Pertama kali seumur hidup, dan mudah-mudahan yang terakhir, aku merasakan jahitan dibuka dan kemudian dijahit lagi tanpa dibius. Rasanya 1000x lebih sakit dari waktu melahirkan!

Butuh darah! Karena banyak mengeluarkan darah aku harus transfusi. Untung bapak mertuaku bergolongan darah sama denganku, tinggal mencari satu orang lagi karena aku butuh 2 kantong darah. Alhamdulillah teman-temanku bersedia jadi pendonor.

Ada cerita lucu, dari 4 orang teman yang menawarkan jadi pendonor, 3 orang temanku ditolak. Ira ditolak karena dia perempuan (hanya boleh pendonor laki-laki), Anton ditolak karena dia baru sembuh dari sakit tipes, si anak Gardep (aku lupa namanya) ditolak karena ternyata dia golongan darahnya tidak sama denganku (padahal dia antusias banget mau jadi pendonor, haha), untung yang terakhir (mas Yana) tidak ditolak, bahkan Mas Bowie jadi cadangan kalo-kalo masih kurang. Aku tahu cerita ini waktu mereka menjenguk aku. Hahaha… ada-ada aja. Tengkyu teman-teman atas perhatiannya.


Actions

Information

Leave a comment